Fri05182012

Last update03:00:27 AM GMT

Profil Bu Rini

share

Walau pengurus Ikapi Jaya itu rata-rata orang sibuk, namun masih bisa rutin rapat minimal dua minggu sekali untuk membahas hal-hal yang menyangkut permasalahan yang dihadapi anggota.

Antara lain masalah ISBN, Permendiknas No. 2 Tahun 2008, dan lain-lain. Namun harus diakui juga bahwa dengan situasi dan kondisi pengurus seperti itu tidak bisa bergerak cepat seperti diharapkan anggota. Saya sendiri belum mensurvei mengapa pertumbuhan anggota Ikapi Jaya tidak besar, utamanya mensurvei alasan anggota yang mundur.

Hal itu diungkapkan oleh Direktur Penebar Swadaya yang juga Wakil Ketua I Ikapi Jaya, Kuslistyarini kepada Ari Benawa dari Warta Ikapi yang menemuinya di Wisma Hijau, Jl. Raya Bogor Km. 30, Mekar Sari, Cimanggis, Depok, Senin (20/10).

Lebih lanjut Rini, demikian sapaan akrabnya mengatakan bahwa idealnya Ikapi Jaya memiliki Sekretaris Eksekutif, mengingat yang ada sekarang masih sebatas Sekretariat biasa. “Dalam kondisi seperti ini mau tidak mau Ketua dan Sekretaris Ikapi harus menghadapi banyak tuntutan dari anggota yang memang memiliki banyak ide,” jelas istri dari Dr. Wudianto dan Ibu dari Sinatria Gaza Lavendra dan Meylia Geva Arvina.
Rini juga mengapresiasi pengurus Ikapi Jaya yang cukup aktif menggalang dana untuk menunjang eksistensi dan sejumlah kegiatannya. Antara lain, yang rutin diadakan setiap tahun adalah Pameran Buku Jakarta.  

Karier Terus Menanjak
Rini yang sudah 23 tahun lebih bergabung di Penebar Swadaya (P.S) mengaku memulai kariernya sejak Januari 1985. “Saya lulus dari pendidikan IPB 1983. Kemudian menikah dan punya anak. Baru kemudian pada Januari 1985 saya mulai kerja di Penebar Swadaya ini,” akunya. Rini tertarik bekerja di P.S karena sejak mahasiswa ia sudah gemar menulis di majalah Trubus. “Bahwa saya menikah dulu dan punya anak baru kemudian bekerja itu karena saya sudah ditunggui calon suami yang sudah melamar saya ketika masih tingkat III,” terangnya. Bahkan Rini mengaku ketika masih skripsi ia sudah diberi tanggal pasti hari pernikahannya. Maka, begitu lulus dan diwisuda pada 3 September 1983, Rini langsung dinikahkan pada 11 September 1983.

Tak lama setelah menjadi copy editor, karier Rini terus menanjak. Setelah menjadi staf redaksi Pusat Penerbitan Bina Swadaya, kemudian ia menjadi Kepala Urusan, lalu menjadi Kepala Bagian Editor Buku P.S. Berturut-turut kemudian menjadi Kepala Bidang Editor Buku, Kepala Pusat Editor Buku; Kepala Produksi; Manajer Produksi; Manajer Wisma Hijau - Kampus Diklat Bina Swadaya; dan sejak 1 Januari 2001 – sekarang Rini menjadi Direktur Penebar Swadaya, selain juga menjadi Komisaris Trubus Agrisarana, Surabaya.

Banyak yang Mengkrasankan
Rini bersyukur bahwa Penebar Swadaya kini terus maju dan berkembang. Hal lain yang mengrasankannya bekerja di P.S. pertama-tama adalah dukungan suami.  “Suami saya seorang peneliti di perikanan DKP (Departemen Kelautan dan Perikanan). Suami memahami sekali karier saya dengan segala risikonya, seperti pulang malam, dinas luar kota, Sabtu-Minggu masih sering membawa pekerjaan ke rumah, dll,” ungkapnya. Rini menambahkan bahwa back ground keluarganya juga menunjang minatnya di dunia pertanian. “Ayah saya pegawai Kecamatan yang punya sawah, ternak ayam, kambing, sapi, dan lain-lain,” aku Rini yang kelahiran Madiun ini. “Apalagi kini kantor dekat dengan tempat tinggal. Sebab, dulu kantor masih beralamatkan di Gunung Sahari,” tambah Ibu dua anak yang beralamat di Permata Puri Laguna, Jl. Danau Semayang C-7 No 2, Mekarsari – Cimanggis, Depok.

Yang mengkrasankannya juga bekerja di dunia penerbitan adalah tiap bulan bahkan tiap harinya selalu ada dinamika. “Tantangan-tantangan untuk menghasilkan buku baru dan inovasi-inovasi karya itu yang mendinamiskan hidup dan karya saya di P. S. Apalagi lingkungan kerja di sini cukup enak,” terangnya. Maka sebagai Direktur Rini lebih mengutamakan hubungan kekeluargaan daripada hubungan formal dalam relasinya dengan ketigapuluh empat anak buahnya.

Urusannya di bidang produksi, mulai dari Redaksi, artistik, sampai ke gudang ditekuninya hari demi hari.  Ia sangat bangga bila produknya diminati konsumen. Selain urusan Produksi di Penebar Swadaya, karena Bina Swadaya, induk perusahaannya itu merupakan grup, selain menjadi Direktur, sejak 2006 Rini juga ditunjuk menjadi komisaris PT Trubus Swadaya , komisaris PT Percetakan Penebar Swadaya, dan komisaris PT Niaga Swadaya.

Terus Berinovasi
Menurut Rini, produk P.S. sejak berdiri hingga 2004 adalah buku-buku pertanian. Tetapi, sejak 2005 Penebar Swadaya telah memiliki imprint-imprint baru, seperti Penebar Plus, yang menangani bidang budaya dan gaya hidup. Salah satu produk unggulannya adalah buku yang menguak fenomena buah merah, Tukul Arwana, dan yang paling laku adalah buku tentang jus buah dan sayur. Ada pula Penebar CIF, yang menggarap bidang penerbitan buku anak-anak; Griya Kreasi, yang menggarap penerbitan buku-buku tentang rumah; Raih Asa Sukses, yang menggarap penerbitan buku-buku manajemen dan olah raga; Pacu Minat Baca, yang menggarap penerbitan buku penunjang pelajaran sekolah; dan Lintas Nusantara, yang menggarap penerbitan atlas, CD interaktif, dan alat peraga dalam pembelajaran.

Sebagai Direktur yang menangani produksi Kuslistyarini mengaku perlunya perpaduan antara jumlah judul buku dan omzetnya. ”Sebab, kalau hanya memikirkan kuantitas jumlah judul buku yang kita terbitkan, tetapi tidak laku, hanya akan memenuhi gudang,” jelasnya. ”Bisa juga kita garap satu judul dengan kajian mendalam dengan waktu lama, tetapi bisa mencapai omzet yang kita harapkan. Jadi, kuantitas dan omzet itu tetap harus jalan. Sebab, dalam memproduksi kita harus berorientasi pada daya jual produk tersebut,” tambahnya.

Untuk itu Rini mengajak anak buahnya sigap menangkap selera dan kebutuhan konsumen. Kerja sama teman-teman editor dan teman-teman marketing pun digalang melalui pertemuan rutin. Perpaduan itu dirasa semakin mendesak, mengingat sekarang model penjualannya adalah konsinyasi. Diakui Rini bahwa persaingan sekarang cukup berat. ”Penerbit-penerbit yang dulu tidak memproduksi buku-buku bidang pertanian kini sudah mulai merambah bidang ini juga,” terangnya.   

Warta Ikapi
Menyinggung keberadaan Warta Ikapi, Rini mengaku sebagai salah seorang yang dulu mengkritisi tampilan Warta Ikapi yang bertahun-tahun tak diubah. ”Kok cuma seperti itu. Modelnya seperti brosur semata dengan tampilan BW (Black and White). Maka, saya sangat mendukung kalau Warta Ikapi tampil bagus,” ungkapnya. Maka ia juga memandang wajar kalau pada terbitan pertama kedua masih ada kekurangan di sana-sini. ”Kalau boleh saya usulkan ada artikel-artikel yang khas tentang dunia penerbitan kita. Misalnya secara berseri memaparkan tentang how to do it-nya, seperti bagaimana melakukan editing yang baik, kiat-kiat mengatasi kejenuhan di dunia penerbitan, program-program komputer terbaru untuk penerbitan, dan lain-lain. Sebab back ground para editor maupun artistik itu kan tidak semuanya selaras dengan bidang garapannya. Jadi, dengan adanya rubrik itu terjalin komunikasi di antara para editor ataupun para desainer grafis serta artistik,” papar Rini menyudahi percakapannya.

Lokakarya IKAPI

Buku Wajib Creativepreneur

Info Pameran IBF 2012

IKAPI: Jl. Kalipasir No. 32, Jakarta 10330 Telp. (021) 31902532, 3141907 Fax. (021) 31926124, 3146050
Copyright © 2011. Designed by Hammus Creative Land