Pilih Laman

Siaran Pers

09/SP/IKAPI-KLIBF/IV/2018

 

Kuala Lumpur– Membicarakan industri kreatif di Indonesia, penerbitan menjadi sub-sektor yang mewakili sub-sektor industri kreatif lainnya, semua sub-sektor perlu buku. “Dari 250 juta jumlah penduduk Indonesia ada 300 juta unit-unit influence usaha kreatif, lebih besar dari population itu menggambarkan bagaimana Indonesia ke depan di industri kreatif itu.” ujar Ricky Pesik selaku Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif RI di Panggung Utama Kuala Lumpur International Book Fair. Indonesia memiliki 17.000 lebih pulau, 700 lebih bahasa, 1000 lebih etnis budaya dimana semuanya merupakan sumber konten untuk industri kreatif ke depan.

 

Presiden Joko Widodo mengatakan “Bahwa Industri kreatif harus jadi tulang punggung Indonesia nanti ke depan.” Itu merupakan visi yang dibangun oleh Presiden Indonesia di tahun 2015 yang kemudian berkembang menjadi misi-misi yang dilakukan oleh Badan Ekonomi Kreatif.

 

Dari segi statistik, walaupun banyak debat yang mengatakan bahwa industri penerbitan turun karena digitalisasi tapi penerbitan adalah industri yang bergerak bukan hanya di penjualan fisik buku. Industri kreatif sendiri memberikan kontribusi yang masih cukup dominan. “Penerbitan memberikan kontribusi sekitar 6 persen dari capital industri itu sendiri” ujar Ricky Pesik. Menurutnya, Industri buku di Indonesia masih bisa terus berkembang karena masih banyak memiliki ruang, peluang, dan kesempatan memajukan daerah-daerah lain di luar di Indonesia yang sedang bertumbuh sehingga bisa memberikan peluang bagi penerbitan di Indonesia.

 

Indonesia perlu tampil lebih maju di panggung dunia. Karenanya, penting untuk mempromosikan karya-karya literatur Indonesia secara konsisten. Untuk itu pemerintah terus mendukung adanya kesempatan-kesempatan tampil di pameran buku internasional. Hubungan bisnis ini tercipta melalui penjualan hak cipta terjemahan (copy right) atau pembelian fisik melalui penerbit, distributor atau toko buku yang ada di Malayasia. KLIBF menjadi  salah satu pameran yang penting bagi konten Indonesia. Gaung internasional pun semakin besar setelah Indonesia menjadi Guest of Honour ketika di Frankfurt Book Fair 2015 yang lalu.

 

“Dari sinilah pengembangan Intellectual Property (IP). Kita baru tahu bahwa kita memiliki potensi yang luar biasa. Kami pun mencatat sudah lebih dari 1000 judul buku Indonesia telah dibeli copyrightnya oleh penerbit asing” ungkap Rosidayati Rozalina selaku Ketua Umum Ikapi Indonesia yang mewakili penerbit-penerbit Indonesia di KLIBF 2018.

 

Di dunia  kreatif khususnya komik, tahun 90-an industri komik di Indonesia mati suri. Lalu sejak tahun 2010-an komik Indonesia semakin meningkat. Dimulai dari tahun 2011 judul seri buku “Si Juki” sudah terbit hingga 20 judul. “Komik bisa menjadi hulu industri kreatif, pengembangan potensi Intelectual Property (IP) semakin besar seperti animasi, video, games, film hingga merchandise,” ungkap Faza Meonk selaku Visual Entertainer sekaligus content creator.

 

Faza yang diundang panitia untuk  hadir di KLIBF 2018 ini berkeinginan mengembangkan karakter “Si Juki” bersama Penerbit Malaysia, berkolaborasi dengan komikus Malaysia sehingga dapat melahirkan buku-buku baru hasil kerjasama antara kedua negara tersebut.

 

Malaysia menempati urutan kedua untuk peminat “Si Juki” setelah Indonesia. Hal ini disebabkan oleh kesamaan budaya yang memungkinkan Si Juki laku di pasar Malaysia. Si Juki the Movie yang sudah dimainkan di bioskop di Indonesia pada Desember 2017 lalu berhasil menarik 700.000 penonton. Ini merupakan bukti keberhasilan film animasi yang mencatat jumlah penonton terbanyak dan jumlah buku yang sudah terjual lebih dari 40.000 eksemplar.

 

KLIBF diselenggarakan di Putra World Trade Center tanggal 27 April hingga 6 Mei 2018. Di KLIBF juga akan diselenggarakan Kuala Lumpur Trade and Copyright Center (KLTCC), Konferensi Penulis dan Malaysia’s Digital Lifestyle Exhibition.

X