Sambutan Ketua Umum Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) pada Munas ke-20 IKAPI, 19 November 2025 di Jakarta
Ini bukan sambutan. Ini adalah story telling.
Delapan belas hari. Hanya 18 hari setelah pelantikan Kabinet Merah Putih, dua belas pengurus Ikapi memasuki ruangan kerja Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah di Senayan, Jakarta. Tanggal 8 November 2024 kala itu. Selain Pengurus Pusat, hadir pula Dewan Pembina, Dewan Pertimbangan Pusat, dan tiga ketua DPD.
‘’Kami telah menanti-nanti pertemuan ini selama lebih dari lima tahun,’’ saya membuka percakapan dengan Prof. Abdul Mu’ti. ‘’Lima tahun? Saya baru beberapa hari menjadi menteri,’’ kata Pak Mu’ti seraya tertawa. Kami juga.
Saya nervous waktu itu; terlalu banyak pikiran tentang perbukuan dalam benak yang ingin saya sampaikan. Bukan hanya keluh kesah tentang nasib penerbit. Dua belas butir usulan juga kami sampaikan kepada Kementerian. Lalu, selang beberapa hari kemudian, Kepala Pusat Perbukuan mengundang saya untuk membahas usulan itu, satu demi satu.
Setahun berlalu setelah pertemuan itu, saya mengirimkan pesan kepada Pak Mu’ti, untuk hadir pada acara Munas ke-20 Ikapi. “Amat penting,’’ tulis saya tentang kehadiran beliau, ‘’untuk menggugah para penerbit dalam masa-masa sulit mereka dalam Munas yang lima tahun sekali ini.’’ Saya kirim pesan itu pukul 11 siang dan seperti biasa saya akan menanti jawabannya menjelang tengah malam, tentu sambil harap-harap cemas sepanjang hari.
Dan betul, sekira pukul setengah sebelas malam, jawaban beliau datang, ‘’Insyaallah saya hadir.’’ Seharusnya saya gembira malam itu, tetapi saya tidak–karena rupanya sudah tertidur.
Baru keesokan paginya saya membuka ponsel, membaca berulang-ulang, “Insyaallah saya hadir… insyaallah saya hadir… insyaallah saya hadir.”
Lalu saya mengirim jawaban, ‘’Alhamdulillah.’’ Singkat, berlagak cool, padahal hati berbunga-bunga, bagai cinta yang diterima.
Jadi, hari ini, izinkan kami menyambut kehadiran Bapak Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Prof. Dr. Abdul Mu’ti M.Ed dalam forum Munas ke-20 Ikapi ini dengan kegembiraan. Kami mendambakan kabar baik tentang kebijakan Kementerian yang dapat menyehatkan kembali ekosistem penerbitan, tentang kecintaan pemimpin bangsa terhadap buku, tentang langkah-langkah membentuk masyarakat pembaca dan pembelajar, tentang kesadaran bahwa semua itu juga demi Ikapi yang berkemajuan.
Namun, jika dimarahi pun, kami akan terima, asal tindak lanjutnya adalah dukungan untuk para penerbit anggota Ikapi. Pak Menteri, bantu kami untuk membantu bangsa ini.
Demikian sambutan saya—tepatnya cerita. Semoga Allah memberi kita petunjuk.
Arys Hilman Nugraha


