oleh Arys Hilman Nugraha (Ketua Umum IKAPI)

“Hanya 3.000 eksemplar?!” seru legenda kriket India, Bishen Singh Bedi, kepada Pramod Kapoor dari penerbit Roli Books. Ia tak habis pikir bahwa buku tentang dirinya dicetak sesedikit itu. Padahal, setiap kali ia bermain di stadion, 50 ribu hingga 60 ribu orang hadir untuk menyaksikannya berlaga.

Buku di India rupanya tak segagah di kisah yang kerap kita dengar. Legiun penggemar Bedi tak serta-merta bersalin rupa jadi pembaca buku tentangnya. Buku berbahasa Inggris di India rata-rata hanya terjual 3.000-4.000 eksemplar. Kalau sudah terjual 10 ribu, artinya sudah masuk kategori buku laku alias bestseller.

The Guardian edisi 9 Februari 2026 menyebut, buku di India tak lebih dari sekadar latar belakang. Ada lebih dari 100 pameran buku di negeri itu, tetapi seni pertunjukanlah yang menguasai arena, terutama musik dan tari. Stan-stan penjualan buku pun kalah laku oleh para pedagang makanan, kerajinan, sari, atau karpet.

“Belanja buku masih merupakan kemewahan bagi kelas menengah dan menengah-bawah India,” ujar Priyanka Malhotra, CEO penerbit Full Circle dan pemilik toko buku Café Turtle di Delhi. Di Jaipur Literary Festival, pameran buku terbesar, 400 ribu orang lebih menyemut. Namun, penyelenggara sadar bahwa sebagian besar pengunjung datang bukan untuk buku. Pun demikian di Banaras Lit Fest di Varanasi, orang-orang berkumpul hanya untuk menonton stand-up comedyfashion show, atau pantomim.

Hmmm … cerita yang tak asing, bukan?

Di Indonesia, seorang penyanyi ternama boleh saja memiliki 20 juta lebih pengikut di Instagram. Namun, ketika ia meluncurkan buku, hanya beberapa ratus eksemplar saja yang terserap. Sebuah organisasi tarekat bisa saja memiliki jutaan anggota, tetapi saat mereka menggelar pertemuan tahunan, hanya beberapa saja buku tentangnya yang terjual. Dalam istilah Malhotra, “Buku adalah latar, bukan hal utama.”

Baca juga: Indonesia Jadi Focus Country pada Istanbul Publishing Fellowship 2026

Foto: Instagram @prabowo

Disrupsi teknologi dan paparan pandemi Covid-19 membawa buku Indonesia pada situasi baru yang tak pernah ada sebelumnya. Di India, jumlah 3.000 eksemplar per judul lebih baiklah daripada Indonesia, walaupun masih di bawah angka Amerika Serikat yang–dikisahkan Rebecca F Kuang dalam novel Yellowface–berkisar 5.000-10.000 eksemplar untuk edisi perdana. Masyarakat Indonesia sekarang hanya mampu menyerap 1.000-1.500 eksemplar per judul buku pada cetak pertama atau setara dengan angka di Singapura yang jumlah penduduknya hanya berkisar 6 juta.

Berkaca pada Malaysia dan Vietnam, industri perbukuan bangkit saat pemimpin negeri menunjukkan kecintaan kepada buku. Perdana Menteri Malaysia adalah pengunjung tetap Kuala Lumpur International Book Fair. Dia bahkan pembelanja besar, biasa menjamu rakyatnya untuk membeli buku di pameran tersebut—tentu dengan dana APBN mereka. Di Vietnam, Perdana Menteri juga biasa berkunjung ke bookstreet yang ada di Hanoi maupun Ho Chi Minh City dan bahkan menjamu tamu negara di tempat tersebut.

Di Indonesia, perhatian dan kebijakan kepala negara terhadap buku kembali muncul dalam satu tahun terakhir ini, tetapi implementasi di level pelaksana pemerintahan menunjukkan beratnya tingkat kebingungan. Tata kelola perbukuan centang perenang. Tata niaga buku untuk sekolah juga tak mendukung kesinambungan usaha penerbitan. Di kalangan wakil rakyat, malah ada persepsi bahwa penerbitan adalah industri yang telah kehilangan relevansi. Sunset.

Tumne na jane kya, sapne dikaaye …. Kya haron hai, kuch kuch hota hai.

Tanpa sadar kauberi aku mimpi …. Apa yang harus kulakukan, sesuatu telah terjadi. []

Baca juga: Rapat Kerja PP IKAPI 2026 untuk Perkuat Organisasi dan Tingkatkan Profesionalitas