Pilih Laman

Acara Munas Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) hari kedua, pagi ini Kamis 26 November 2020 diawali dengan diskusi perbukuan dengan tajuk Kebijakan Pemerintah dalam Memulihkan Industri Penerbitan di Era Adaptasi Kebiasaaan Baru. Bertindak sebagai Narasumber adalah Prof Dr. Totok Suprayitno selaku Kepala Litbang, Kurikulum dan Perbukuan Kementerian Pendidikan Nasional. Sedangkan Lucya Andam Dewi dan Djadja Subagdja bertindak sebagai moderator. Acara yang dilangsungkan secara daring ini diikuti oleh lebih dari 150 orang perwakilan penerbit dari seluruh Indonesia. Ikut pula dalam kegiatan ini adalah para pengurus IKAPI daerah dan IKAPI cabang yang tersebar di 32 provinsi.

Prof. Totok Suprayitno dalam paparannya yang sangat menarik menjelaskan tentang bagaimana situasi aktual dunia pendidikan Indonesia saat ini. Situasi yang menurut beliau belum mencerminkan apa yang menjadi harapan dari semua stakeholder pendidikan. Mulai dari permasalahan kualitas guru, proses belajar dan juga media belajar yang lebih sesuai dengan keberagaman peserta didik. Beliau menggarisbawahi bahwa ada tantangan riil di depan mata yang sebenarnya sudah mulai terasa ketika terjadi disrupsi dalam berbagai hal akibat dari kemajuan dan perkembangan teknologi dan kemudian semakin terasa ketika pandemi Covid-19 melanda dunia. Tantangan yang dimaksud adalah perubahan yang menuntut output pendidikan memiliki kemampuan berpikir, beradaptasi dan memiliki kecakapan hidup yang lebih sesuai dengan kondisi dunia yang berubah. Ini memerlukan kerja keras, kita sudah cukup lama dalam model pembelajaran yang menekankan pada penguasaan aspek pengetahuan semata dan oleh karena itu kita perlu melakukan perubahan sehingga output pendidikan kita lebih baik dan lebih berkualitas dari tahun-tahun sebelumnya.

“Tugas pemerintah adalah menghasilkan kebijakan yang dapat membangun sebuah ekosistem yang mendorong proses pembelajaran dengan paradigma baru. Dalam paradigma baru pembelajaran itu ada upaya konkret untuk melengkapkan ragam berpikir peserta didik sampai pada tahap high order thinking skill. Menganalisis, mengevaluasi, mencipta dan mensintesa adalah kemampuan yang diharapkan dapat dikuasai oleh siswa setelah melalui proses belajar. Dan itu semua tidak dapat dipisahkan dari ketersediaan buku-buku pelajaran yang baik. Disini peran pemerintah menjadi penting. Pembinaan dan peningkatan mutu penerbitan buku ajar adalah hal yang nicaya, agar apa yang menjadi harapan akan terjadinya perubahan paradigma tersebut dapat terwujud.

Lebih jauh, Prof. Totok menjelaskan bahwa kemampuan membaca siswa Indonesia saat ini 71% masih di bawah level minimum. Itu artinya mayoritas siswa baru bisa membaca apa yang tersurat tapi belum bisa melihat apa yang tersirat dari sebuah bacaan dengan baik. Tidak hanya rendah dalam kemampuan memahami teks tapi juga terdapat fakta bahwa disparitas antara daerah sangat tinggi. Ini menjelaskan bahwa ada ketidakmerataan yang akan ditangani secara sungguh-sungguh.

Pada sesi tanya jawab, ketika ada pertanyaan yang berkaitan dengan bagaimana pemerintah melihat eksistensi buku-buku non pendidikan, Prof. Totok menjelaskan bahwa pemerintah berkonsentrasi pada kualitas buku yang dipergunakan dalam proses belajar mengajar di sekolah. Itu yang menjadi amanat utama Undang-undang No 3 Tahun 2017,” jawab beliau. Sedangkan buku perguruan tinggi secara otonom ditentukan oleh masing-masing kampus.

Pada bagian penutup diskusi Prof. Totok menghimbau agar penerbit anggota IKAPI tetap bersemangat dalam menerbitkan buku-buku yang bermutu sebagai sebuah upaya nyata untuk mengejar ketertinggalan kita dalam berbagai bidang dibandingkan bangsa-bangsa lain di dunia.

Setelah acara diskusi selesai, acara Munas IKAPI hari ini akan dilanjutkan dengan rapat-rapat komisi yang akan membahas berbagai hal terkait dengan eksistensi IKAPI dan rekomendasi untuk program kerja pengurus IKAPI periode 2020 – 2025.

___
Junaidi Gafar

X