Pilih Laman

Kuala Lumpur (1/5/2018)— Pesta Buku Antarbangsa Kuala Lumpur (Kuala Lumpur International Book Fair 2018) yang berlangsung di Putra World Trade Center (PWTC) sejak pagi sudah dipadati pengunjung. Di Ibukota Malaysia ini juga sedang menikmati hari libur “Hari Buruh Internasional” yang jatuh pada hari ini. Terhitung dari tahun ke tahun, “hari buruh” merupakan hari dengan jumlah pengunjung terbanyak yang hadir di KLIBF.

“Malaysia bagi saya sudah menjadi rumah kedua,” ujar Habiburrahman El Shirazy. Di usianya yang ke-25 tahun ketika pulang dari Kairo, Mesir, Habiburrahman yang dikenal dengan panggilan Kang Abik pernah diundang oleh Dewan Bahasa Kuala Lumpur untuk menghadiri Kuala Lumpur World Reading dan menjadi penyair termuda yang hadir di acara tersebut. Dalam sharing-nya, Kang Abik menyatakan jika beliau mengawali profesi penulis dengan menulis cerpen dan puisi. Secara profesional, ia juga menjadi penerjemah buku-buku dari Kitab-Kitab Arab ke bahasa Indonesia.

Baginya menulis adalah mengamalkan ilmu dan berdakwah, juga semata-mata ibadah kepada Allah SWT. Itu merupakan niatan awal mengapa Kang Abik menulis. Ia bukan menulis karena ingin membuat buku best seller, tetapi karena niatan tulus itulah yang membuahkan sesuatu hal yang luar biasa. “Profesi penerjemah merupakan cara Allah mendidik saya untuk menjadi penulis agar saya bisa duduk lama di depan komputer dan menulis buku.”

Ia juga berbagi tentang bagaimana menerbitkan buku best seller. Apabila menginginkan buku best seller, ada beberapa hukum yang harus dipatuhi menurut Kang Abik. Sama seperti memasak makanan, makanan itu harus laku dijual, sama halnya seperti buku bestseller. Diawali makanan itu harus enak, begitu juga dengan tulisan. Hasil karyanya harus bisa dinikmati banyak orang. Selain itu, makanan juga harus bergizi sehingga dibeli banyak orang, sama juga dengan buku, tulisannya harus berisi ilmu. Jika buku itu memberikan nilai lebih pasti dengan sendirinya akan menjadi best seller dan akan membuka peluang-peluang lain, seperti diangkat ke dalam film, bahkan ke hal lainnya.

KLIBF berlangsung sejak tanggal 27 April sampai 6 Mei 2018 di Putra World Trade Center, Kuala Lumpur, Malaysia. Tahun ini Indonesia hadir sebagai negara tamu bersama dengan Arab Saudi dan negeri tamu Kedah. Kehadiran ini didukung sepenuhnya oleh Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), dan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kuala Lumpur. KLIBF juga diisi dengan Kuala Lumpur Trade and Copyright Center (KLTCC), Konferensi Penulis dan Malaysia’s Digital Lifestyle Exhibition.

X